Tren Direct-To-Consumer (D2C), Layak untuk Dicoba?

posted in: In-Depth 0

Pernah nggak kamu mendengar tentang tren yang satu ini, direct-to-consumer? Perusahaan yang menggunakan cara atau model bisnis direct-to-consumer (D2C) berarti memproduksi dan mengirimkan produk mereka langsung ke pembeli tanpa bergantung ke toko atau perantara lainnya. Istilah lain dari D2C sendiri adalah DNVB atau Digital Native Vertical Brand.

Retailer tradisional biasanya memasarkan produknya dari pabrik, terus ke wholesaler, kemudian ke distributor, ke retailer, baru deh sampai ke pembeli. Semuanya dipangkas dengan menggunakan cara D2C ini menjadi dari pabrik langsung dipasarkan menggunakan internet (biasanya di website) atau di toko offline milik sendiri, lalu langsung dikirimkan ke pembeli.

Keuntungan menggunakan model bisnis D2C

Dengan sistem D2C seperti ini, perusahaan atau brand pun bisa menjual produk mereka dengan harga yang lebih terjangkau dan bisa punya kontrol dari mulai dari produksi, pemasaran, dan pengiriman produk. Brand D2C juga punya keleluasaan untuk bereksperimen dengan model distribusi mereka, mulai dari pengiriman langsung ke pembeli sampai kemungkinan untuk membuka toko pop up.

Dengan sistem D2C, perusahaan atau brand juga bisa mendapatkan margin keuntungan yang lebih besar, karena tidak perlu memotong keuntungannya untuk menitipkan produk ke perantara atau distibutor. Karena tidak ada perantara kamu bisa menjalin komunikasi langsung dengan konsumen dan mengetahui pendapat konsumen tentang produkmu. Kamu juga bisa lebih berimprovisasi jika memang ada ide produk baru atau perbaikan produk dari konsumen. Kamu bisa langsung menerapkannya di produksi selanjutnya.

Karakteristik brand D2C

Biasanya brand D2C mempunyai karakteristik berikut: berada di kategori barang umum yang biasanya digunakan sehari-hari, mempunyai toko online sendiri, mendorong simplicity alias opsi yang ditawarkan tidak banyak, berinvestasi dan memasarkan produknya dengan digital marketing, SEO, dan konten, serta mengutamakan pengalaman pengguna untuk menjadi nilai tambah.

Contoh brand D2C yang ada di luar negeri adalah Warby Parker yang menjual kacamata, Casper yang menjual matras, dan Allbirds yang menjual sepatu. Rata-rata mereka membangun aplikasi atau website mereka sendiri dan nggak mengandalkan ecommerce atau marketplace.

Brand D2C fokus ke website mereka karena mereka bebas untuk mengetahui data analytics di dalam website dan memberikan fitur-fitur yang membantu para calon pembeli. Mereka juga bisa menawarkan hal lebih di dalam website mereka dan menciptakan pengalaman yang unik bagi calon pembeli. Misalnya saja Warby Parker yang menggunakan augmented reality di dalam website mereka dan memungkinkan calon pembeli mencoba kacamata secara virtual.

Strategi brand D2C

Seringkali brand D2C mengeluarkan produk yang sudah dijual dan tersedia di pasaran, sehingga mereka akan berkompetisi dengan perusahaan besar. Tetapi bukan berarti brand D2C tidak punya strategi untuk terlihat lebih menonjol dibanding pesaing yang sudah lebih dulu besar namanya.

Brand D2C seringkali menonjolkan simplicity atau kesederhanaan, beberapa hanya mengeluarkan 1 atau 2 produk. Mereka juga memastikan produk mereka memiliki keunggulan, berkualitas, dan bisa menjawab kebutuhan pasar. Produk yang sedikit membuat pembeli tidak kesulitan memilih, brand pun dapat mengurangi beban logistik dan memfokuskan marketing di produk tersebut.

Mereka juga banyak mempromosikan produk mereka dengan menggunakan media online, seperti lewat influencer atau podcast. Walau media ini juga digunakan oleh brand besar yang tidak menggunakan sistem D2C, tapi seringkali mereka lebih unggul karena lebih paham bagaimana menampilkan produk mereka dan mengemas produk mereka agar menjadi kelihatan menarik saat digunakan influencer. Tak jarang mereka pun membuat skenario dan cerita yang sangat nyata, sehingga kita tidak sadar kalau itu adalah iklan.

Brand D2C seringkali memastikan ada pengalaman yang unik dan berbeda ketika konsumen mencoba produk mereka, bisa dari kemasan yang unik dan tidak biasa, atau dari layanan pelanggan yang ramah dan memberi solusi. Seringkali layanan pelanggan ini akan memberikan kesan di hati konsumen dan membuat konsumen terus mengingat brand ini. Siapa yang nggak senang kalau di tiap kesempatan berbicara dengan admin brand disapa dengan ramah dan diakhiri dengan “have a nice day kak ❤️”

Brand D2C di Indonesia

Di Indonesia sendiri banyak sekali brand D2C bermunculan, ada Brodo yang sedari dulu berjualan sepatu dengan model D2C ini. Di bidang kecantikan juga ada Rollover Reaction yang memang dari dulu berjualan di website mereka dan di awal kemunculannya sempat viral dengan produknya. Brand pakaian lokal juga banyak menggunakan model D2C ini, contohnya saja Humblezing dan Cottonink. Eiger pun bisa kita kategorikan D2C karena memiliki toko offline sendiri dan berjualan juga di website mereka dan toko resmi di ecommerce. Mungkin brand langganan kamu juga menerapkan sistem ini lho, coba kamu lihat karakteristiknya ya.

Potensi D2C di Indonesia

Potensi model D2C ini masih sangat besar di Indonesia, terlebih setelah pandemi, kebanyakan orang memilih untuk berbelanja online. Kita juga bisa lihat dari nilai transaksi e-commerce yang terus meningkat, terakhir mencapai Rp266,3 triliun di 2020. Bisa jadi ini akan terus meningkat seiring berjalannya waktu dan orang akan semakin terbiasa untuk berbelanja online.

Jadi, apakah kamu mau menerapkan model D2C ini ke dalam bisnismu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *