Pengertian NFT dan Cara Ubah Aset Digital Menjadi NFT

posted in: In-Depth 0

NFT merupakan singkatan dari Non-Fungible Token. Dilihat dari arti namanya sendiri, Non-Fungible itu berarti tidak dapat ditukar atau digantikan, jadi NFT adalah token yang tidak bisa ditukar atau digantikan. Contohnya, kalau fungible berarti token ini bisa ditukar atau dipecah, misalnya 50.000 kan bisa ditukar atau dibagi 2 menjadi 25.000 sebanyak 2 lembar dan bisa digantikan juga dengan pecahan yang sama 50.000 lainnya, kalau NFT tidak bisa dibagi-bagi seperti ini dan tidak bisa digantikan. Jadi, misalnya sebuah gambar NFT, tentu dia nggak bisa dibagi menjadi 2 atau digantikan dengan NFT lainnya. Seperti lukisan Monalisa yang asli tentu tidak bisa digantikan dengan apa pun di dunia ini, karena yang asli hanya ada 1 di dunia ini.

Sistem blockchain yang digunakan untuk NFT

Aset digital kamu diubah menjadi NFT dan diverifikasi oleh blockchain. Blockchain sendiri adalah buku besar digital yang memfasilitasi pencatatan transaksi. Buku besar ini dipegang oleh banyak entitas, sehingga sangat kecil kemungkinannya untuk diretas. Untuk kepentingan privasi, seluruh entri dibuat dengan nama samaran atau berupa kode. Agar NFT dapat dipindahtangankan dan dapat memberikan informasi tentang pemilik saat ini, kita membutuhkan smart contract yang ada di dalam teknologi blockchain.

Smart contract adalah sebuah program yang berjalan di blockchain dan memiliki dua karakteristik penting: dapat menerima dan mengirim transaksi, dan tidak dapat diubah. Smart contract dapat menyediakan, membaca, dan menyimpan data. Sehingga memungkinkan NFT ada di dalam sistem blockchain dan dapat diperjualbelikan.

Cara ubah aset digital menjadi NFT

Untuk membeli atau menjual NFT, kamu membutuhkan cryptocurrency atau mata uang crypto. Kamu bisa mendaftarkan diri kamu di platform crypto seperti TokoCrypto dan dari situ kamu bisa membeli mata uang crypto atau menukarkan rupiah kamu dengan mata uang crypto yang bisa digunakan untuk NFT, seperti Ethereum, Binance, Tezos, dan yang lainnya. Uang ini akan digunakan untuk membayar network dan storage/gas fee, semacam biaya admin yang akan kamu bayarkan ketika mengunggah atau mengubah aset digital kamu ke dalam NFT.

Mata uang crypto yang sudah kamu punya, bisa kamu transfer terlebih dahulu ke dalam wallet. Wallet inilah yang nanti akan kamu hubungkan dengan platform tempat kamu mengubah aset digitalmu ke dalam bentuk NFT dan menjual atau pun membeli NFT. Platform ini banyak sekali bisa kamu pilih mulai dari airNFT, Rarible, bakeryswap, OpenOcean, OpenSea, hic et nunc, dan masih banyak yang lainnya. Kamu perlu perhatikan mata uang crypto yang digunakan dalam platform atau marketplace ini, karena platform ini biasanya hanya menggunakan 1 mata uang crypto. Misalnya di hic et nunc menggunakan Tezos, di OpenSea menggunakan Ethereum, dan di airNFT menggunakan Binance smart chain. Di platform ini, kamu bisa melakukan proses minting atau mengubah aset digital kamu ke dalam bentuk NFT dan menjualnya di dalam marketplace-nya.

Binance sendiri dikabarkan akan membuka NFT marketplace-nya sendiri di 24 Juni ini. Bitcoin, salah satu mata uang crypto juga dikabarkan akan memberikan akses kepada developer untuk membuat NFT-nya sendiri dengan mata uangnya di November ini menggunakan smart contract di dalamnya.

Beda karya seni NFT dan karya seni di dunia nyata

Bedanya karya seni NFT sama karya seni di dunia nyata ini apa sih? Karya seni di dunia nyata itu berbentuk fisik pastinya dan bisa dipegang, karya seni di dunia nyata juga bisa banget dipalsukan dan lebih susah dibuktikan keasliannya karena perlu dilihat oleh yang ahli. Sedangkan, NFT ini karya seni yang sudah diubah menjadi “token” dengan teknologi blockchain, sehingga tercatat dan punya sertifikasi dalam bentuk metadata. Kita bisa tahu siapa pembuat NFT ini, dibeli oleh siapa dan menjadi milik siapa lewat metadatanya. Memang nggak menutup kemungkinan NFT yang diunggah ini adalah plagiarisme dari karya seni lainnya, seperti kasus karya ilustrator Indonesia, Kendra Ahimsa, yang karyanya diubah ke dalam NFT oleh user bernama Twisted Vacancy.

Menurut Prasajadi, pekerja seni yang turut terjun ke dalam dunia NFT, kasus plagiarisme seperti ini memang dimungkinkan oleh sistem, namun komunitas NFT cukup solid untuk memastikan ada sanksi sosial untuk pelaku plagiarisme atau yang melanggar aturan. Di Indonesia sendiri, sudah ada komunitas NFT bernama Metarupa.

Apa yang membuat NFT berbeda dengan memiliki image digitalnya?

Mungkin sampai di sini kamu berpikir, apa bedanya memiliki NFT dengan misalnya menyimpan gambar karya seni tersebut dari internet dalam bentuk file image digital seperti jpg, png, dan lainnya. Jelas berbeda, karena kamu beneran memiliki karya seni tersebut jika memiliki NFT-nya. Di sertifikatnya juga tersimpan nama kamu, kalau kamu adalah pemilik karya seni tersebut. Kamu juga bisa memamerkan karya NFT yang kamu miliki. Rasanya pasti berbeda dengan hanya punya salinannya.

Dengan adanya NFT, siapa saja bisa jadi artis NFT dan menjual karyanya dalam bentuk NFT. Desainer, ilustrator, pekerja seni, musisi, dan kolektor semuanya bisa mendapatkan untung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.