Kepemimpinan Indonesia di Sektor Kelautan Melalui Inovasi dan Teknologi

posted in: Opini 0

Konsep negara Kepulauan yang dicetuskan oleh Perdana Menteri Indonesia Djuanda Kartawidjaja, atau yang lebih dikenal dengan Deklarasi Djuanda, pada 1957 telah mengilhami pembentukan konsepsi negara kepulauan dalam UNCLOS (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut) pada 1982. Hingga saat ini terdapat sekitar 22 negara yang menyatakan diri sebagai negara kepulauan, namun pada awal pembentukan konsepsi tersebut hanya 5 negara yang diterima sebagai negara kepulauan yakni Kepulauan Bahama, Fiji, Papua Nugini, Filipina dan Indonesia.

Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memulai inisiasi pembentukan Forum negara-negara pulau dan kepulauan, yang dikenal sebagai Archipelagic and Island States (AIS) Forum bersama United Nations Development Programme (UNDP) di tahun 2017. Forum ini dirancang sebagai forum terbuka dan inklusif, yang akan menjadi simpul kerja sama dan kolaborasi konkret diantara negara-negara pulau dan kepulauan di seluruh dunia. Kerja sama dalam AIS Forum berfokus pada 4 area pembangunan yakni Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengelolaan Bencana, Pembangunan Ekonomi Biru, Penanggulangan Sampah di Laut, dan tata kelautan dan kemaritiman yang lebih baik. Forum ini berfungsi sebagai wadah bagi negara pulau dan kepulauan dalam menghasilkan inovasi dan solusi konkret untuk menanggulangi berbagai tantangan di sektor kelautan. 

Sebagai salah satu usaha untuk mendorong kerja sama penanggulangan sampah di laut, UNDP menginisiasi program kompetisi EPPIC (Ending Plastic Pollution Innovation Challenge), yang bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Norwegia, dalam hal ini Norwegian Agency for Development Cooperation, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK), Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (KEMENKOMARVES), Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) dan AIS Forum. 

EPPIC merupakan kompetisi yang mengajak semua inovator untuk berbagi ide cemerlang dalam menangani sampah plastik. Melalui kompetisi ini, dapat mendorong komunitas startup dari negara-negara peserta AIS Forum untuk mencari solusi inovatif dan kreatif guna melakukan upaya pengurangan limbah plastik, yang nantinya mampu menghasilkan kontribusi perekonomian sirkular. 

Selain itu, program ini bekerja sama dengan AIS Startup Blue Hub yang akan membantu inovator yang terpilih untuk mengembangkan proses ideation menjadi feasible melalui program impact acceleration. Blue Hub ini merupakan salah satu upaya AIS Forum untuk memfasilitasi para perusahaan rintisan/startup dari negara peserta AIS Forum untuk dapat mempercepat pengembangan startup dengan menyediakan dukungan kemitraan dan pembinaan untuk dapat menjadi perusahaan yang profitable. Sebagai wadah kerja sama, Blue hub juga bermanfaat untuk mendorong komunitas perusahaan rintisan di negara-negara AIS Forum untuk semakin produktif mengembangkan inovasi, guna memberikan solusi terbaik dalam menghadapi krisis lingkungan yang sedang kita alami. 

Di tahun 2020, kompetisi serupa telah dilaksanakan melalui AIS Innovation Challenge, yang berfokus pada inovasi berbasis teknologi khususnya pada 4 area kerja sama AIS Forum. Program-program seperti ini merupakan bentuk akselerasi dan kolaborasi untuk memanfaatkan sektor ekonomi digital sebagai salah satu penggerak utama dalam menciptakan solusi cerdas dan inovatif yang dapat berdampak pada perkembangan ekonomi masyarakat. 

Perkembangan teknologi di Indonesia kini ditandai dengan tingginya jumlah perusahaan startup di Indonesia dari tahun ke tahun. Menurut Startup Ranking pada tahun 2020, Indonesia telah tercatat memiliki 2.210 startup yang menjadikannya sebagai negara pencetak startup terbanyak ke-5 di dunia setelah Amerika Serikat, India, Inggris Raya, dan Kanada.

Isu lingkungan hidup yang makin ramai diperbincangkan ternyata menjadi salah satu bidang favorit bagi para pengembang startup. Di Indonesia, kiprah perusahaan startup yang berkontribusi di bidang lingkungan diantaranya adalah Koinpack yang juga merupakan pemenang AIS Innovation Challenge 2020 telah menghadirkan inovasi dengan memperkenalkan konsep zero waste packing untuk produk-produk FMCG serta menjembatani UKM dengan produsen produk rumah tangga dan kosmetik besar di Indonesia dimana mereka menyediakan produk-produk tersebut dalam bentuk kemasan isi ulang.

EPPIC yang juga turut berkontribusi dalam mengakselerasi inovasi penanganan sampah plastik diharapkan secara tidak langsung juga mampu menjadi “campaign” yang berdampak pada perubahan perilaku di masyarakat. Kampanye yang dimaksud tidak hanya berperan dalam hal meningkatkan kesadaran untuk menjaga lingkungan tetapi juga turut menginspirasi masyarakat khususnya generasi muda agar bisa terlibat dalam penyelesaian permasalahan sampah plastik dengan melibatkan kemajuan teknologi dan digitalisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *