Solusi Inovatif Tangani Sampah Plastik Laut Melalui EPPIC

posted in: Opini 0

Peluncuran awal EPPIC (Ending Plastic Pollution Innovation Challenge) akan diselenggarakan pada 16 Maret 2021. Empat pemenang utama dari kompetisi ini masing-masing menerima dana sebesar USD$18,000 dari UNDP Impact Aim. Pada acara soft launching tersebut, Sekretariat TKN PSL (Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut) akan mengadakan talkshow bertajuk “72 Juta Dollar untuk Perangi Sampah Plastik.” 

EPPIC adalah kompetisi terbaru di tingkat ASEAN yang mengajak semua inovator untuk berbagi ide cemerlang dalam menangani polusi plastik dengan dunia. Ajang ini diinisiasi oleh UNDP (United Nations Development Programme) dengan dukungan dari Kementerian Luar Negeri Norwegia dan Norad (Norwegian Agency for Development Cooperation), serta berkolaborasi dengan AIS (Archipelagic and Island States) Forum, KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia), dan KEMENKOMARVES (Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia).

Banyak lembaga dan komunitas melakukan inovasi dalam memerangi sampah plastik di lautan. Namun, sering kali tidak mendapat dukungan atau rendahnya visibilitas yang mereka butuhkan untuk tumbuh. EPPIC memberikan pendanaan awal dan pelatihan inkubasi bagi para inovator untuk membantu mereka memaksimalkan keberhasilannya. 

Sampah plastik merupakan masalah global yang mengancam ekosistem di samudera. Beberapa waktu lalu bangkai paus terdampar di perairan Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Ternyata, di dalam tubuh satwa dilindungi ini ditemukan sampah plastik sebanyak 6 kilogram. Satu penelitian yang diterbitkan jurnal Environmental Science and Technology (2013) menemukan lebih dari 1.400 zat kimia yang terkandung dalam plastik, namun hanya 260 zat yang baru bisa diidentifikasi. Ternyata, 60 persennya mengandung zat beracun dan 40 persen zat oksidatif yang dicurigai terkait dengan kanker, diabetes dan penyakit jantung. 

Plastik juga sulit terurai secara alami dan tetap berada pada kondisi yang sama dengan bahan kimianya selama puluhan tahun. Limbah ini telah mencemari daerah pesisir dan mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Untuk mengurai plastic dibutuhkan biaya yang besar. Penelitian The City of London Corporation memperkirakan butuh dana sekitar 68 juta poundsterling untuk mencapai target nol polusi plastik pada 2040. 

Jumlah timbulan sampah di Indonesia mencapai 66 juta ton/tahun, dimana 16 persen adalah sampah plastik. Tahun 2018, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) melakukan studi sampel di 18 lokasi di berbagai daerah. Ternyata  sampah plastik yang bocor ke laut sebanyak  268,740 – 594,558 ton setiap tahunnya.  

Sebagai negara kepulauan, polusi plastik telah merugikan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Pantai dan terumbu karang menjadi rusak mengakibatkan hilangnya potensi pariwisata Indonesia. Pemerintah melakukan berbagai upaya mengurangi timbulan sampah dan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari hari. Ada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan mengurangi  penggunaan kantong plastik sekali pakai di pasar tradisional dan swalayan. Hal ini diikuti dengan sosialisasi penggunaan kantong belanja alternatif yang terbuat dari material yang dapat diurai oleh alam. 

Untuk penanganan sampah plastik di laut, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut guna mengurangi 70 persen sampah laut pada tahun 2025. Melalui Perpres tersebut, pemerintah  menyusun RAN PSL (Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut) tahun 2018-2025 yang memberikan arahan-arahan strategis bagi kementerian/lembaga untuk menangani permasalahan sampah laut. Hal ini ditindaklanjuti dengan pembentukan Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut.

Tim Koordinasi telah menginisiasi pilot activity pengelolaan sampah mandiri di Labuan Bajo. Proyek uji coba ini dilaksanakan di Desa Gorontalo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur untuk menyelesaikan sampah plastik pada desa wisata yang cukup bergantung dengan potensi laut. Untuk tingkat internasional, Tim Koordinasi menginisiasi Ending Plastic Pollution Innovation Challenge (EPPIC) Competition. Kompetisi yang diselenggarakan bersama  UNDP ini  bertujuan untuk mendorong inovasi dalam penyelesaian masalah polusi plastik di Indonesia dan Asia Tenggara.

Melalui kompetisi EPPIC, kelompok-kelompok masyarakat diajak untuk mencari solusi-solusi inovatif yang dapat menciptakan ekonomi sirkular melalui pencegahan limbah plastik dan polusi di tingkat lokal. Solusi-solusi itu diharapkan dapat: (1) mencegah produksi dan konsumsi plastik; (2) mengurangi plastik sekali pakai dan menawarkan model untuk penggunaan ulang; (3) menghilangkan plastik bermasalah melalui desain ulang, inovasi, dan model pengiriman baru; (4) memisahkan penggunaan plastik dari konsumsi sumber daya terbatas, terutama bahan baku fosil; (5) mengembangkan proses daur ulang baru; dan (6) mengarahkan pada perubahan perilaku di masyarakat.

***/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *