Wayang Sukuraga

posted in: Opini 0

Oleh: Raka Imam Tantio | Jajaka Kota Sukabumi

Wayang Sukuraga merupakan wayang dari anggota tubuh. Suku adalah bagian atau anggota, raga  adalah tubuh atau badan, wayang Sukuraga adalah wayang anggota tubuh yang para tokohnya  adalah semua anggota tubuh manusia. Sejatinya Sukuraga adalah wayang sebagai pemeran atau  pelakon. Manusia adalah dalang, atau pemimpin, mampu kah kita (manusia) memimpin atau  mengendalikan anggota tubuh, atas pengaruh negatifnya nafsu yang ingin menguasai akal. Jika  akal manusia sudah di kuasai di mainkan oleh nafsu tipu daya setan, maka dia akan menjadi  robotnya setan. 

Dia tahu di jalan itu ada sampah kulit pisang yang bisa mencelakakan orang lain namun dia  biarkan, dia tahu itu barang bukan milik nya dia ambil. Menurunnya nilai moral, kekerasan demi  kekerasan dilakukan, hati yang dingin kurangnya saling menyayangi, ketidak pekaan social, perilaku merusak diri sudah banyak di lakukan oleh anak anak juga para orang dewasa. Jangan lah  heran jika berkurang nya rasa hormat anak terhadap orang tua nya yang melahirkan dan  membesarkannya itulah saudara-saudara kita yang seperti terhipnotis tertidur tidak sadar. Apakah  kita akan membiarkan saudara, anak anak kita sebagai generasi penerus bangsa terhipnotis oleh  dampak berkembang nya teknologi informasi digital, video porno serta game kekerasan yang sulit  kita bendung saat ini, yang secara visual mempunyai magnet dan daya tarik yang luar biasa,  membuat saudara-saudara kita terhipnotis, tidak sadar bahwa keluarganya dalam bahaya. 

Sejarah Singkat Wayang Sukuraga 

Wayang Sukuraga diciptakan oleh Efendi Sukuraga yang merupakan seniman lukis asal  Sukabumi, Jawa Barat di tahun 1995. Efendi mengembangkan bentuk dasar wayang yang selama  ini dikenal menjadi lebih mewakili sifat manusia dalam berkehidupan dan mulai di pertunjukan  pada masyarakat umum sejak tahun 1997. 

Bermula dari pameran lukisannya di Institut Teknologi Mara Malaysia, lukisannya yang bertema  Sukuraga dengan judul Peran-peran diartikan pelakon petunjuk kehidupan oleh apresiastor di sana.  Hal itu yang semakin menggugah Fendi untuk menciptakan tokoh Sukuraga menjadi tokoh  pewayangan yang menggambarkan manusia.

Dalam proses kreatifnya Fendi mengalihkan lukisan Sukuraga yang biasa tergambar dalam kanvas  ke media kulit dan dibentuk menjadi wayang. Wayang-wayang ini bergambarkan anggota tubuh  manusia (Sukuraga) seperti kaki, tangan, mata, hidung dan telinga. 

Tokoh Pewayangan Sukuraga 

Nama tokoh pewayangan Sukuraga diambil dari Bahasa sunda, Panon berarti mata, Ceuli berarti  telinga, Mulutna berarti mulut, Leungka merupakan singkatan dari Leungeun katuhu yang berarti  tangan kanan dan leungke singkatan dari leungen kenca yang berarti tangan kiri. Tokoh-tokoh  dalam Wayang Sukuraga adalah bagian dari tubuh manusia seperti hidung, mata, telinga, dan kaki  ditambah dengan gunungan seperti dalam pertunjukan biasanya. Gunungan ini menjadi penafsiran  sang sukuraga atau manusia, setiap bagian dalam tubuh adalah cerminan manusia kelak, seperti  dalam ajaran agama Islam, suatu hari nanti tangan, mulut, mata, dan kaki akan mepertanggung  jawabkan segala tingkah nya, kemana kaki melangkah, apa yang dilakukan tangan, apa yang di  ucapkan mulut, apa yang dilihat mata, suatu saat nanti akan dipertanggung jawabkan kepada Tuhan  yang Maha Kuasa yang menciptakan seluruh alam dan isinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.