Inovator di Asia Tenggara Bergabung untuk Atasi Polusi Plastik di Laut

posted in: Travel & Lingkungan 0

Untuk mengatasi permasalahan sampah plastik yang semakin memburuk ini, Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut, Archipelagic and Island States Forum, dan United Nations Development Programme (UNDP) meluncurkan program Ending Plastic Pollution Innovation Challenge atau EPPIC. EPPIC adalah kompetisi se-ASEAN yang diinisiasi oleh United Nations Development Programme (UNDP) dengan dukungan dari Kementerian Luar Negeri Norwegia dan Norwegian Agency for Development Cooperation (Norad).

Lebih dari 140 inovator telah mendaftarkan diri di kompetisi yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah sampah plastik di wilayah Asia Pasifik ini. Dari 140 innovator, terpilih 18 peserta yang berasal dari 7 negara, yaitu Indonesia, Filipina, Singapura, Kamboja, Vietnam, Malaysia, dan Thailand.

Program EPPIC 2021 berupaya untuk menemukan inovasi yang berkelanjutan dan dapat direplikasi sehingga dapat mengatasi sampah plastik di lautan. Pada agenda tahun ini, solusi yang diajukan akan ditargetkan untuk diujicobakan di dua kawasan wisata tersohor yakni Mandalika di Pulau Lombok, Indonesia dan Pulau Samal di Filipina.

Baik Mandalika maupun Pulau Samal terkenal dengan pantai pasir putihnya yang banyak dikunjungi turis sebelum pandemi COVID-19. Total timbunan sampah di Mandalika mencapai 215,7 ton per tahun pada tahun 2020, sedangkan di Pulau Samal sampah yang dihasilkan mencapai 15.000 ton setiap tahunnya. Sampah yang dihasilkan di kedua kawasan tersebut di antaranya adalah botol PET dan plastik kemasan makanan lainnya.

Zulkieflimansyah, Gubernur Nusa Tenggara Barat, berpendapat bahwa kompetisi ini dapat mendukung penyelesaian polusi plastik di Mandalika yang menjadi salah satu Destinasi Wisata Super Prioritas di Indonesia. Sementara itu, menurut Walikota Pulau Samal, Al David Uy, kerjasama dengan UNDP ini merupakan ‚Äúlompatan besar” untuk meningkatkan inisiatif mereka dalam mengatasi masalah sampah plastik dalam kehidupan masyarakat kepulauan seperti Samal.

Peserta terpilih akan menjalani program inkubasi selama tiga bulan oleh para inkubator dari Filipina dan Indonesia yang akan dimulai pada Juli 2021. Mereka akan mengikuti serangkaian pelatihan dengan topik yang beragam antara lain terkait ekonomi sirkular, pengukuran dampak, tujuan pembangunan berkelanjutan, pemasaran, dan crowdfunding dengan memanfaatkan dukungan dan jaringan yang luas. Finalis EPPIC akan berkesempatan untuk mengembangkan solusi yang digagas sehingga mampu memaksimalkan hasil yang dapat diperoleh dengan penyesuaian terhadap kondisi wilayah masing-masing.

Empat peserta terbaik akan dipilih pada bulan Oktober 2021 dan mendapat pendanaan awal bebas ekuitas sebesar 18,000 dolar amerika untuk digunakan dalam implementasi inovasi yang telah diajukan selama sembilan bulan pada proses impact acceleration. Baca selengkapnya di sini.

Delapan juta ton sampah plastik berakhir di samudera setiap tahunnya dan 60% dari jumlah tersebut berasal dari Asia. Plastik menghancurkan kehidupan di laut dan mencemari lautan dengan begitu cepat. Sampah plastik tidak mengenal batas, melintasi laut, sungai, dan muara serta memengaruhi semua lapisan masyarakat dan ekonomi.

Hal ini juga merupakan pendorong utama perubahan iklim: emisi dari plastik akan mencapai 17% dari anggaran karbon global dalam tiga dekade mendatang. Tanpa adanya tindakan, dunia ini akan dihadapkan pada resiko memiliki lebih banyak plastik daripada ikan di lautan pada tahun 2050.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.